13
Agu
18

Renungan Tentang Kita dan Waktu

Sungguh sunyi! Saat membaca kembali puisi-puisi ‘pilu’ yang pernah ku buat empat tahun lalu. Tanpa disadari, selang dua tahun kemudian… lahirlah bayi-bayi puisi ‘obat’ yang jika membacanya serasa memulihkan luka-luka yang sempat tertoreh dalam naskah lama. Tak jarang, butuh waktu yang cukup panjang untuk mengobati segala jenis ‘sakit’. Seperti tentang puisi tadi, kurang lebih enamratus enampuluh hari untuk mengubah keadaan, memulihkan luka. Namun, terasa amat singkat jika kita membaca kembali keduanya secara bersamaan saat ini. Sesunyi itu kah kita dahulu? Sebahagia itu kah kita kini? Atau sebaliknya. Apa yang membuatnya berubah?

Proses ini sering membuat kita ‘linglung’ bahkan lupa. Ya, mungkin kah ini bagian dari proses hidup? Kita tak sama dengan kita yang tadi. Terkadang kita justru menjadi orang lain, benda lain atau pun mahluk lain tanpa kita benar-benar menyadarinya. Kita hanya terlalu sibuk mengurusi banyak kekhawatiran tanpa mempersiapkan kelahiran diri kita yang baru, yang (seharusnya) lebih baik dan lebih berkualitas di masa akan datang, beberapa detik kedepan.

“Saya tak tahu, berapa waktu yang tersisa untuk saya. Satu jam, satu hari, satu tahun, sepuluh, lima puluh tahun lagi? Bisakah waktu yang semakin sedikit itu saya manfaatkan untuk memberi arti keberadaan saya sebagai hamba Allah di muka bumi ini? Bisakah cinta, kebajikan, maaf dan syukur selalu tumbuh dari dalam diri, saat saya menghirup udara dari Yang Maha?”
Helvy Tiana Rosa, Risalah Cinta

Siapa yang tidak tahu… perjalanan hidup demikian rumit, terutama bagi kita yang awam. Membuat kita serasa bangun dari mimpi, dari kenangan, lalu terkejut saat ‘terjaga’ menyaksikan kenyataan. Bagai bunga tidur yang memiliki ruh, mencetak sejarah yang begitu hidup dan tumbuh di kepala, lalu kita tercengang dengan hasil akhirnya! Kita dapat melihatnya dengan jelas, betapa sekarang adalah kenyataan, yang sesegera mungkin akan berpindah menjadi calon kenangan! Kita memang pernah ada di sini, tapi esok dan seterusnya kita akan ada di mana? Disaat yang mana dan seperti apa? Padahal kita bernafas dengan hidung yang sama, melihat dengan bola mata yg serupa. Atau kah mungkin hati dan pikiran kita yang berbeda? Yang akan menentukan kualitas hidup kita selanjutnya. Detik demi detik begitu lincah menggilas, mengubah segalanya tanpa ampun, tanpa terkecuali!

“Agaknya sang waktulah yang paling perkasa dalam kehidupan. Ia tak tersaing,Tak pernah mengeluh. Tak pernah juga merasa takut. Sementara manusia -saya dan anda- berlanjut usia, berlanjut pula tulahnya.”
Remy Sylado, Kembang Jepun

Mungkin kah waktu adalah ‘tuan’ yang dipilih Tuhan? Ia bebas menjadikan kita seperti yang diinginkannya. Apakah kita harus melakukan sesuatu? Bergegas! Menguasai sang waktu untuk mengubah segalanya seperti yang kita mau… mengikuti detaknya, pun ikut menentukan irama dan hentakan dalam tiap deru lajunya. Mengajaknya berdamai… namun sungguh, itu tak mudah! Ah… terkadang kita merasa sudah amat sadar merencanakan kelahiran kita esok, menyiapkannya… akan menjadi seperti apa kita esok hari. Sayangnya kita sering lengah. Kalah. Sedangkan waktu semakin gagah, menjelma menjadi si penyihir hebat! Lagi-lagi, setiap detik akan segera menyulap kita dengan ‘mantranya’, saat kita sadar maupun alpa. Oh, di sana kah letak gelisah itu!? Jika iya, maka kita harus selalu terjaga… agar kelak, saat hari ini menjadi lampau, kau tak akan pernah menyesalinya… bahkan mensyukuri kelahiranmu di masa itu dan masa-masa mendatang lainnya. Jadilah engkau seperti yang kau mau. Jangan pernah menjadi apa pun yang bahkan kau pun tak mengenalinya! Tidak kah kita hampir terlambat? Sebelum sampai di ujung waktu, saat menit terlanjur menjadi mayat. Jangan pernah terlambat… Jadilah aku seperti yang ku mau! Jadilah!

“Janganlah bersedih, waktu mengambil seorang sahabat, dan waktu akan menggantikannya dengan sahabat yang lain. Berdamailah dengan waktu, karena waktu akan menumbuhkan dan menyembuhkan.”
Andrea Hirata, Ayah

Bandung / Khairunnisa Mawar Biduri

 

Iklan
05
Agu
18

Suka Duka Menulis Buku Antologi (Ulasan Kuliah WhatsApp Bersama Ai Sundari)

Sebagai penulis amatir, menjadi suatu impian bagi saya untuk bisa menerbitkan buku karya pribadi atau menjadi salah satu kontributor sebuah buku antologi. Namun, untuk layak menerbitkan sebuah karya tentu haruslah memiliki kualitas tulisan yang juga mumpuni. Menjadi penulis handal yang tulisannya layak terbit tentu menjadi PR besar. Saya harus rajin berlatih dan terus menggali potensi kepenulisan saya, agar bisa menemukan jati diri dan ciri khas yang nantinya akan menjadi salah satu kriteria  menjadi penulis yang pantas. Namun, banyak sekali hambatan yang membuat hal tersebut tidak pernah terwujud. Salah satu yang terkuat adalah faktor internal, faktor yang ada dalam diri ini, yaitu : malas menulis, malas membaca dan malas berlatih.

Alhamdulillah belakangan ini saya menemukan sebuah komunitas yang menjadi salah satu passion saya. Komunitas menulis ini bernama One Day One Post (FB : #ODOPfor99days). ODOP telah banyak membantu saya untuk berlatih menulis dengan konsisiten, dan mulai “memaksa” saya untuk wajib menulis minimal satu post tulisan dalam satu minggu melalui tantangan wajib setor tulisan minimal 500 kata. Tantangan itu saya lalui dengan penuh liku, karena mesti mensiasati waktu menulis diantara kesibukkan domestik IRT yang tiada habisnya, juga disela-sela waktu mengasuh dua puteri kecil kami. Rasa haru meliputi saya, saat menjadi salah satu yang terpilih konsisten menulis dan memiliki kesempatan eksklusif untuk masuk ke grup Whatsapp ODOP. Dari grup WA tersebut, kami mendapatkan kuliah whatsapp (kulwap) setiap hari Jumat per dua pekan sekali. Tema kulwap perdana kami adalah ‘suka duka menulis buku antologi’ bersama Teh Ai Sundari, seorang ibu lulusan S1 Matematika ITB (3/8). Teh Ai adalah penulis 7 buku antologi, dengan 5 buku genre anak dan 2 buku lainnya genre dewasa. Hasil diskusi online semalam membuat saya mendapatkan percikan semangat dan bahan bakar yang cukup banyak untuk mulai serius menulis dan terus berlatih.

WhatsApp Image 2018-08-03 at 08.54.28Kisah Teh Ai yang sangat inspiratif ini membuat saya terpacu untuk pelan-pelan mengikuti jejaknya. Seorang ibu yang kembali menulis setelah sekian lama vakum (sejujurnya ini seperti yang saya alami saat ini). Teh Ai perlahan mulai merintis kembali menciptakan karya-karya yang memikat setelah usia anaknya menginjak usia 2 tahun. Ia memulainya dengan berkontribusi dalam penerbitan indie sebuah buku antologi. Dalam waktu yang terbilang singkat, ia pun mulai melangkah dari satu buku ke buku antologi lainnya. Hingga akhirnya 2 karya Teh Ai mulai dilirik oleh salah satu penerbit mayor. Dreams come true. Sungguh itu bukan suatu keajaiban. Tapi merupakan hasil dari ketekunan dan usaha yang beliau tanamkan pada kesehariannya. Beliau selalu menyempatkan menulis meski waktu untuk menulis masih ‘tricky’ karena sambil membersamai anak dan sambil menghadapi kesibukan domestik lainnya. Tapi kegiatan menulis Teteh Ai tetap lanjut dalam batas deadline. Terbukti seorang ibu tetap bisa produktif dari dalam rumah. Very inspired!

Berikut poin-poin inspiratif yang saya dapatkan dari diskusi kulwap semalam :

  1. Anak adalah sumber ide dan inspirasi (khususnya anak sendiri), atau pengalaman pribadi saat kecil dan hasil pengamatan pada beberapa anak. Digabungkan dengan faktor pendukung di sekitar, jadilah sebuah cerita.
  2. Kejadian real yang pernah dialami sendiri, menjadi ide dan inspirasi terbaik
  3. Proyek antologi lebih simple, mudah dan enjoy. Menulis di buku antologi seperti latihan, karena bisa membaca naskah teman lain dan mendapat masukkan dari penulis lain
  4. Y’ang membuat buku antologi ‘rich and unique’ justru karena gaya penyampaian cerita dari tiap penulis yang beragam. Ini membuat cerita dalam satu buku berwarna.
  5. Dengan berkontribusi di buku antologi menjadi tahu cara menulis sebuah percapakan yang baik dan benar. Membuka mata bahwa bahasa Indonesia itu luar biasa, banyak sekali kosa katanya.
  6. Bisa berkenalan dengan para penulis keren dan meemiliki kenalan baru yang tinggal di berbagai negara dan membuka jalan bertemu penerbit mayor.
  7. Antologi cerita anak itu indah dan menarik, meski sederhana tapi ada sisipan nilai, hal seru, unsur yang menghibur sekaligus mendidik (unik).
  8. Belum pernah malas karena selalu menulis dengan tema yang nyaman dan disukai.
  9. ‘People have to know who are you and your quality’.
  10. Komunitas positif memberikan wadah dan kesempatan untuk percaya diri dalam berkarya.
  11. Harus memiliki target, konsisten menulis, agar dapat menghasilkan karya yang bermanfaat, terutama karya yang bisa dibacakan untuk anak sendiri.
  12. Karya indie bisa jadi lebih bagus dan lebih menguntungkan serta lebih cepat terbit. Bedanya, saat terbit mayor, buku ceritanya full color, lebih menarik, dibuatkan iklan, ada tim marketing tersendiri dan penulis mendapatkan royalti. 

Berikut Karya Teh Ai (Sundari Eko Wati*) yang sudah terbit,
Genre Dewasa : 33 Kisah Me Time dan Chamomile Tea For Wonderful Moms (terbaru). Buku Cerita Anak : 43 Dongeng Amazing, Meraih Bintang Surga, Tahukah Kamu?, Semarak Idul Fitri Di 5 Benua 20 Negara, Semarak Idul Adha Di 5 Benua 20 Negara.

Di penghujung kata, saya merasa sangat bersyukur ditakdirkan bertemu dengan komunitas positif ODOP, sehingga saya bisa lebih bergairah lagi untuk berlatih menulis serta bertemu dengan para penulis keren diantaranya Teh Ai Sundari ini. Ayo ikutan grup FB #ODOPfor99days dan dapatkan kesempatan mengitkuti kulwap-kulwap berkelas di sana. Sampai jumpa dalam ulasan #JumatKulwapODOP selanjutnya. Salam literasi!

Minggu, 5 Agustus 2018

Khairunnisa Mawar Biduri

*Alamat blog: https://sundariekowati.wordpress.com / IG: @sundarieko / FB: Sundari Eko Wati /Aktivitas: IRT, menulis di blog pribadi dan menerbitkan buku / Genre buku: Cerita anak dan dewasa (Motherhood story).

30
Jul
18

Aku Rindu Shalatku yang Khusyu

mewarnaigambarsketsa.blogspot.com

Sumber: mewarnaigambarsketsa.blogspot.com

Hanya subuh, satu-satunya waktu terbaikku menemui-Nya. Kala kedua puteriku masih terlelap dalam damai tidurnya. Sebab diwaktu lainnya, aku hanya bisa sembahyang dengan tergesa, sambil sesekali menyeka basah keringat. Aku harus siap ditangisi puteri kembar kami, yang minta diambilkan susu atau sekadar ingin dipeluk dan dielus rambutnya. Yang satu menarik-narik mukenaku dari belakang, Satu lainnya duduk dipangkuanku saat gerakan shalatku sampai di tasyahud awal. Kontan aku tak bisa bangkit, ku lanjutkan rakaat ke-tiga dan empat dengan duduk membeku sambil menahan tarikan tangan si kecil, sesekali menutup mata menyanggah rengekan si kecil lainnya, sambil terus komat kamit menyelesaikan ibadahku, kewajibanku. Tapi, Nak, engkau pun salah satu kewajiban bagiku. Amanah yang wajib dijaga dan diantarkan pada kebaikan. Itu sama pentingnya dengan kewajiban lima waktuku, maka dengan penuh perjuangan aku berusaha menunaikan keduanya sekaligus. Aku harus mendampingimu, menghayati masa kanak-kanakmu yang takkan pernah kembali, menikmati waktu menjadi anak kecil. Nikmatilah masa-masa ini nak, jangan berpikir ingin seperti orang dewasa, karena nanti kau pun akan merasakannya. Nikmatilah, karena hanya sakali saja kita bisa menjadi anak kecil. Banyak yang benci menjadi dewasa karena mungkin saja mereka tidak merayakan masa kecilnya dulu. Kalian akan ibu antar, ke dunia anak yang bersih dan menyenangkan, sambil sesekali Ibumu ini bernostalgia. Semoga kelak Ibu bisa mengantarkanmu menjadi orang dewasa yang shalih, tangguh, cakap dan santun, insya Allah. Bantu Ibu ya sayang.
Kini, kala engkau menangis, Ibu harus membuatnya menjadi tawa meski perlu bersusah payah merubah wajah ibu menjadi lucu, karena sebenarnya sama sekali tidak lucu. Tapi itu demi engkau, nak. Agar engkau tersenyum. Sebab kelak, saat kau dewasa, kau yang akan ciptakan senyummu sendiri. Bahkan akan ada masanya kau akan sembunyikan tangismu karena kau tak ingin menularkan kesedihanmu, itu salah satu yang orang dewasa lakukan. Nanti, saat kau bersedih, tak selalu ada yang sedia menyeka air matamu, lalu dengan rela membuat wajah lucu untukmu. Kau mesti mampu menghibur dirimu sendiri, jadikan jiwamu lebih kuat dari masalah yang ada disekitarmu. Jadi, sekarang, saat engkau masih kecil, mari kita berbahagia nak. Selagi ibumu selalu siap menggoda dan menggendongmu berputar-putar mengelilingi rumah. Lalu menyiapkan punggung untuk menjadi gajah tiruan yang siap kau tunggangi. Menyanyikan lagu burung hantu, kupu-kupu yang lucu atau lagu ‘twinkle-twinkle little star’ kesukaanmu. Dan jika semua cara tetap membuatmu murung, ibumu ini siap menggelitik tubuh mungilmu agar kau tak bisa mengelak dari tertawa. Dari bahagia.
Maka, disetiap subuh, tak pernah lupa ku sampaikan puisiku pada Sang Penjaga. Kulantunkan larik-larik doa terbaik untuk dua gadis kecil yang telah datang dari rahimku ini. Semoga kelak engkau menjadi manusia yang shalih yang pandai bersyukur, pandai berbahagia. Yang juga bisa membahagiakan lingkunganmu, tepatnya memberikan sinyal kebaikan pada sekitar, aamiin. Dan itu hanyalah bagian kecil dari berbukit-bukit doaku pada-Nya.
Lalu, kini ku mengerti, mengapa Allah mewajibkan shalat subuh lantas menyunnahkan shalat dhuha. Karena jika dibalik, takkan pernah ada waktu intimku dengan-Nya. Takkan ada kelahiran puisi-puisiku untuk-Nya. Tak akan ada waktu untukku menuliskan semua ini. Tapi, besar harapan ibu seriiring petumbuhan usiamu nak, semoga ibu semakin diberi kesempatan shalat dengan khusyu di setiap waktu, baik wajib maupun sunnah, aamiin yra. Tentunya dengan begitu akan lebih banyak lagi doa yang ibu kirim pada-Nya, untuk bekalmu, bekal kita. Nanti, saat kalian memasuki usia sekolah, pasti ibu akan merindukan saat-saat ini. Saat direpotkan olehmu setiap detik, ketika shalat sambil memangku kaka dan menopang tubuh adik di punggung. Ibu pasti rinduuu…
Dan, setelah melipat sajadah juga mukena, ku kecup kening dua puteriku yang belum terjaga, Wahai Pemberi Semangat dan Penjaga Harapan, ampuni aku atas kealpaanku yang menjulang tak bisa terkata. Terimakasih atas segala pertanda dan kebaikan yang selalu tercurah dalam setiap gelap menjelang pagi—–yang dinginnya menelusup hingga ke urat hati.
*Teruntuk Kiyya dan Kinan jagoan cantik Ibu.

Dari ibu,

Khairunnisa Mawar Biduri

23
Jul
18

Cerpen : Pisang Goreng

Pernahkah kau merasa seakan-akan terbawa ke masa lalu, hanya karena mencicipi sebuah makanan?

***

Karena satu dan lain hal, sembilan tahun belakangan aku belum memiliki kesempatan untuk pulang kampung. Itulah sebabnya kenangan merasuk seketika, hanya dengan menghirup aroma minyak panas berisi pisang rakit bentuk kipas, dengan baluran tepung beras dicampur sedikit garam dan dua bungkus  kecil vanili. Tentu saja aromanya sedikit berbeda karena dimasak menggunakan kompor gas. Tiada wangi khas kayu bakar yang bercampur udara segar pedesaan seperti di kampung kami. Biasanya pisang rakit sangat cocok bila disandingkan dengan nasi pulut (baca: ketan putih).

Kebetulan Bapak sedang berkunjung ke rumah kami. Entah bagaimana, tiba-tiba saja Bapak ingin membuatnya. Mungkin Bapak rindu kampung halaman. Sama persis dengan yang ku rasakan. Di kampung kami,  para lelaki tak kalah handal dalam hal memasak. Mereka hafal betul bagaimana membedakan cara mengolah ikan laut dan ikan tawar. Mereka tahu dedaunan mana yang sedap bila ditambahkan pada sebuah masakan. Merekapun tahu jumlah bawang merah yang tepat untuk membuat sambal balado paling enak. Kali ini Bapak memasak pisang goreng rakit kipas, kesukaanku.

Ya! Gara-gara pisang goreng kipas yg diracik dan digoreng oleh Bapakku sendiri. Aromanya membawaku terbang ke kampung halaman kami, Batahan. Sebuah desa di pesisir Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.

Gigitan pertama, membuatku terpejam agak lama. Aku merasa tengah berada di sebuah dusun di pinggir tanah lapang, duduk di dekat perapian. Di sana ada seorang Nenek sedang merakit pisang dan menggorengnya dengan alas sehelai daun limus. Nenek itu bernama Uci Kuaso (baca: Nenek Kuaso), beliau sudah tua tapi tak betah diam. Nyaris tak pernah libur. Setiap hari ia selalu sibuk menata kayu bakar, meniupnya perlahan, mengatur suhu paling pas bagi pisang rakitnya. Wajahnya merah, terpapar bara didepannya. Keriputnya tak sedikit, menandakan perjuangan panjang dan tak mudah. Uci Kuaso selalu menjadi langganan para gadis desa, dengan kain sarung khas wanita membalut tubuh mereka, dilengkapi jilbab yang diikatkan kebelakang.

”Ci, ambo duo yo?” (Nek, saya dua ya?), kataku.

Uci Kuaso menjawab pemintaanku dengan senyuman, sambil memasukkan dua buah pisang goreng panas ke dalam kantong keresek kecil berwarna biru transparan.

Kebiasaan di kampung kami hampir semua makanan yg dibeli pasti dibungkus menggunakan kantong keresek tipis berwarna biru atau merah muda. Baik itu kue-kue, gado-gado, miso (baca: soto bihun), toluo katung (baca: telur penyu), sampai lontong sayur sekalipun. Hampir tidak pernah memakai plastik bening. Itu sudah menjadi kebiasaan.

Begitupun dengan budaya dan kebiasaan para gadis desa di sana yang terkenal anggun dan pemalu. Anak gadis tak pernah terlepas dari jilbab dan kain mereka. Tak jarang, paras cantik mereka ditutupi bodak boreh (baca: bedak beras) atau bedak dingin agar wajah mereka terlindung dari teriknya suhu di pesisir. Bodak boreh semacam masker tradisional terbuat dari beras putih yang ditumbuk dan dicampur dengan ekstrak bunga-bunga sedemikian rupa, lalu dibentuk bulat kecil dan dijemur agar awet. Cara pakainya dileburkan dengan sedikit air lalu dioleskan ke wajah. Bodak boreh dibuat sendiri oleh kaum perempuan di sana. Para lelaki pun terkadang ikut memakainya, karena suhu di desa kami memang terbilang panas. Bagi para perantau, bedak ini menjadi salah satu bekal mereka ke kota.

Namun kabarnya, seiring dengan berlarinya waktu, hanya bodak borehlah yg dirasa masih menjadi kebiasaan para gadis. Meskipun masih ada yang menjunjung tinggi kebudayaan desa kami. Tetapi sayang jumlahnya tak lagi sebanyak dulu, satu dekade yang lalu. Kain mereka perlahan dilepas, berganti celana jeans. Jilbab mereka hanya tertata rapi di lemari, dipakai pada acara-acara tertentu saja, terkecuali jilbab seragam sekolah. Kini untuk membeli sayur ke kedai pun mereka mulai nyaman cukup mengenakan kaos pendek dan celana tiga perempat. Seiring dengan dibangunnya tower-tower telekomunikasi dan tersebarnya jaringan internet di desa.

Sejak itu pula, tak pernah ada lagi wangi asap khas kayu bakar dari satu sudut di tanah lapang. Uci Kuaso pun tak pernah terlihat lagi.

***

Hampir satu piring pisang goreng kipas habis kulahap, dengan binar mata melayang penuh kenangan disetiap gigitannya.

-Tamat-

Oleh : Khairunnisa Mawar Biduri

17
Jul
18

Doa Untuk Kiyya dan Kinan

Ibu mungkin  tak mampu memberikanmu pengasuhan yang sempurna, meski ibu terus berusaha memberimu yang terbaik. Banyak sekali rintangan dalam membesarkanmu sayang. Ternyata ilmu menjadi seorang ibu, menjadi orangtua, adalah ilmu yang tersulit sepanjang pengalaman ibumu ini. Meski ibu tak secerdas para pakar dalam meneliti dan memberikan solusi berbagai masalah parenting, atau tak se-telaten para ibu teladan yang berhasil dalam mengamalkan prakteknya. Tapi ibu punya satu senjata : ibu tak akan lengah berdoa. Dan Ibu tak akan lelah. Hanya itu yang bisa ibu andalkan dibanding kecerdasan ibu yang biasa-biasa saja dalam memahami ilmu ‘ke-ibu-an’. Juga stamina fisik ibu yang juga biasa-biasa atau mungkin kurang memadai untuk meng-handle segala peran ibu secara optimal apalagi ‘expert’. Maafkan Ibu. Bukan berarti ibu hanya bias pasrah. Ibu akan terus belajar menjadi ibu yang baik, ibu akan berusaha memberikan pengasuhan yang terbaik. Tapi ibu takut usaha ibu belum mendapatkan hasil terbaik, maka ibu takkan lengah berdoa. Disisa-sisa waktu yang entah tinggal berapa tahun lagi, entah tinggal berapa detik lagi. Kebersamaan kita tiada abadi. Tapi Doa ibu kekal, insyaAllah. Maka ibu akan memohon doa terbaik untukmu. Doa yang sungguh akan kau perlukan, akan kita perlukan. Inilah doa Ibu untuk Kiyya dan Kinan kesayanganku :

“Ya Allah, Tuhan yang Maha Baik. Jagalah iman dan aqidah anak-anakku. Lembutkanlan hati mereka untuk menerima hidayah dan rahmat-Mu. Selamatkan dan lindungilah mereka kapanpun dan dimanapun, ketika bersamaku ataupun tidak, kala aku ada maupun tiada. Kelompokkan kami bersama orang-orang dan lingkungan yang shalih-shalihah dan matikan kami dalam keadaan khusnul khatimah, Aamiin yra…”

Doa ini akan ibu ulang-ulang, kapanpun dimanapun, sekeras ingatan ibu, sebanyak waktu ibu yang tersisa. Dan ibu akan terus berdoa agar dijauhkan dari lupa. Dijauhkan dari lupa berdoa. Doa yang pasti Allah dengar, dan ibu akan terus merayu-Nya untuk mengabulkan doa ibu. Disetiap ibu memelukmu, selalu ibu sisipkan doa, dan setiap ibu mengecupmu juga selalu ibu titipkan doa. Karena ibu tak selamanya bias selalu di sampingmu. Ibu sadar, suatu saat kau akan pergi sendiri dengan masing-masing takdir  terbaik dari Allah. Tapi ibu juga titip satu, doa yang akhir-akhir ini ibu ajarkan kepadamu, di usiamu yang kini masih balita, tolong kekalkan doa itu dalam hatimu. Teruslah lafalkan setiap hari. Saat ibu ada atau pun kelak ibu tiada. Doa itu adalah doa ajaib, yang bisa menolong ibu (dan kita) dari api neraka. Ucapkan setiap selesai sembahyang. Setiap hari sepanjang waktu. Katakanlah :

“Robbighfirlii waliwaalidayya warham humma kamaa rabbayaa nii shaghiiraa”. Artinya: “Wahai Tuhanku, ampunilah aku dan kedua orang tuaku (Ibu dan Bapakku), sayangilah mereka seperti mereka menyayangiku diwaktu kecil”

Jangan lengah berdoa anakku…

Kelak, jika kau telah dipercaya Allah menjadi orangtua, menjadi seorang ibu. Jadilah ibu yang selalu mendoakan kebaikan bagi anak-anakmu bagaimanapun keadaannya. Jadilah seorang ibu yang tak lelah berdoa. Ajari juga anakmu doa ajaib yang ibu titipkan padamu. Jika kelak engkau menjadi seorang ibu, jadilah ibu yang yang lebih baik dari ibumu ini. Kuatkan iman dan aqidahmu, kuatkan nalar dan logikamu, kuatkan ketangguhan sabar dan ikhlasmu nak. Ciptakanlah generasi unggulan, buat peradaban yang lebih baik. Ibu menyayangimu, selalu, seperti biasanya.

Juli, 2018.

Khairunnisa Mawar Biduri

 

09
Jul
18

Andai Aku Perempuan Super

Aku ingin menjadi Diana, seorang perempuan tangguh yang dibesarkan di pulau tersembunyi Themyscira, tempat tinggal para pejuang Amazon yang diciptakan oleh para dewa Gunung Olympus untuk melindungi manusia. Diana meninggalkan rumahnya untuk mencoba menghentikan perang dunia dan menjadi Wonder Woman. Diana sangat lihai berkuda, ia sangat berani menghadapi peperangan untuk melindungi orang-orang lemah di dunia, handal menangkis segala peluru yang mengarah padanya. Andai aku menjadi Diana sang Wonder Woman.

Aku ingin menjadi Okoye, seorang jenderal militer perempuan. Ia berasal dari Wakanda yang merupakan negara hebat karena memiliki dua hal. Pertama karena kandungan vibranium (membuat negeri ini sangat maju, berharga dan istimewa) yang membuat Wakanda sangat dicari oleh semua makhluk serakah di bumi, sehingga akhirnya membuat negara ini tersembunyi dari dunia luar. Kedua karena populasi penduduk wanitanya yang gagah berani dan tangguh. Salah satunya adalah Okoye sang jenderal militer Wakanda yang setia melindungi T’Challa dengan segala keberanian. Andai aku menjadi jendral militer Okoye.

Sumber : Alibaba.com (promotion_woman-super-hero-promotion)

Sumber : Alibaba.com (promotion_woman-super-hero-promotion)

Aku ingin menjadi Valkyrie, seorang prajurit wanita yang kuat berasal dari suatu tempat bernama Asgard. Ia membantu Thor dalam menyelamatkan Asgard dan rakyatnya dari kehancuran. Valkyrie membantu Thor berjuang dalam memerangi Hela sang dewi kematian. Ia sangat berani dan cerdas dalam mengatur strategi melawan ketangguhan Hela yang hampir tak tertandingi. Valkyrie juga sangat handal mengendarai berbagai jenis pesawat, bahkan saat harus menyeberangi black hole yang merupakan salah satu tempat paling ditakuti di alam semesta. Andai aku menjadi Prajurit Valkyrie.

Aku ingin menjadi Sang Mockingjay, Katniss Everdeen. Dalam kisahnya di film The Hunger Games, Katniss membantu jalannya pemberontakan terhadap Capitol, ia sempat menjadi tokoh propaganda dalam kisruh politik antara Capitol dan Panem. Hal itu terpaksa dilakukannya karena tak ada pilihan lain yang lebih baik demi menyelamatkan semua distrik. Namun setelah menghadapi segala pergolakan , Katniss akhirnya tersadar dan mantap melawan Snow dan Coin yang saling serang namun keduanya adalah penjahat yang sama-sama memperalat Katniss. Akhirnya dia berhasil melawan dan memerdekakan seluruh distrik serta menemukan cinta sejatinya, Peeta. Katniss adalah perempuan berani dan tangguh yang sangat handal memanah. Andai aku menjadi Katniss Everdeen.

 

“Maka tentu aku tetap akan menjadi diriku, bukan menjadi mereka.

Aku yang berusaha memberikan manfaat kebaikan bagi sekitarku.

Memancarkan sinyal positif bagi sekelilingku.”

 

Aku ingin menjadi Mayor Susan Turner. Dalam film Jack Reacher : Never Go Back, perempuan tangguh satu ini dituduh melakukan aksi mata-mata. Jack Reacher seorang mantan mayor Angkatan Darat Amerika Serikat (AS) muncul  untuk membantu membersihkan nama Mayor Turner yang dituding telah melakukan aksi mata-mata. Keduanya pun jadi buronan polisi militer dan seorang pembunuh yang diperankan Patrick Heusinger. Dalam pelarian, Jack dan Susan terpaksa membawa serta Samantha (diduga anak dari Jack) yang nyawanya juga terancam. Bertiga, mereka pergi ke New Orleans, yang diyakini akan memberikan semua jawaban atas persoalan mereka. Dengan berbagai rintangan yang dihadapi akhirnya mereka berhasil memecahkan teka-teki kejahatan jual beli roket dan mengantongi bukti bahwa Mayor Turner sama sekali tidak bersalah. Mayor Susan Turner sangat lihai saat berlaga, pelurunya nyaris tak pernah meleset, kecerdasann dan keberaniaanya membuatnya sangat pantas berada diposisinya. Andai aku menjadi Mayor Susan Turner.

Tapi itu semua hanyalah pengandaian semata… yang bagiku sangat manusiawi bahwa manusia itu senang berkhayal, hehehe. Itu semua hanyalah khayalan seorang perempuan yang senang berandai-andai. Mereka hanyalah beberapa diantara tokoh-tokoh fiktif perempuan super yang aku kagumi. Tapi aku sebenarnya tak se-ambisi dan se-berlebihan itu. Aku hanya ingin menuliskan kekagumanku saja pada tokoh-tokoh tersebut juga pada para penciptanya, terkhusus kekagumanku pada Sang Kreator Sejati yang menciptakan para penulis skrip (atau pembuat ide cerita) terbaik di dunia, Dialah Allah Sang Maha Keren. Oleh karenanya, aku hanya akan mengambil semua hal positif dari para perempuan super yang kuceritakan tadi. Maka tentu aku tetap akan menjadi diriku, bukan menjadi mereka. Aku yang berusaha memberikan manfaat kebaikan bagi sekitarku. Memancarkan sinyal positif bagi sekelilingku. Dan yang satu ini bukan lah pengandaian lagi, bahwa aku akan terus memohon kepada-Nya untuk dianugerahi kekuatan super shalihah dari hari ke hari, dari hari ke hari, dan seterusnya. Lebih baik dan lebih taat lagi pada-Nya. Aamiin yaa mujibas sailin…

 

“…Dan yang satu ini bukan lah pengandaian lagi, bahwa aku akan terus memohon kepada-Nya untuk dianugerahi kekuatan super shalihah dari hari ke hari, dari hari ke hari, dan seterusnya…lebih baik dan lebih taat lagi pada-Nya. Aamiin yaa mujibas sailin…”

Lain waktu, aku akan bercerita tentang para perempuan super yang berjuang di jalur islam, kali ini bukan tokoh fiktif tapi mereka sungguh nyata. Para muslimah kesayangan Allah. Coming Soon, InsyaAllah
10 Juli 2018,
Khairunnisa Mawar Biduri
03
Jul
18

Ramadhanku Vs Ramadhan Saudaraku di Gaza

Sumber : https://www.facebook.com/photo.php?fbid=272508679977912&set=pcb.272508789977901&type=3&theater

Seorang anak di Gaza menangis saat hari raya iedul fitri. Sumber : https://www.facebook.com/photo.php?fbid=272508679977912&set=pcb.272508789977901&type=3&theater

Setelah menonton video keluarga muslim nun jauh di Gaza sana, betapa hancurnya perasaan ini. Betapa beruntungnya aku bisa berlebaran dengan aman damai tanpa bom, peluru dan granat. Dengan senyum mengembang dan mata berbinar ku nikmati ketupat bertemankan opor ayam bertabur bawang goreng dan emping renyah. Sombongnya aku. Betapa sibuknya aku saat mendekati iedul fitri. Baju lebaran, sepatu baru, dompet baru, kue-kue lezat lengkap dengan toples baru. Betapa syukurku rasanya sangat minus dibanding segala anugerah yang Allah berikan untukku, keluargaku dan negeri ini. Ramadhan ini mungkin adalah ramadhan yang pilu bagi mereka. Malu rasanya untuk mengeluh, untuk mengutuk keadaanku saat ini. Keadaan yang penuh kelapangan dibanding keadaan saudara-saudaraku di Suriah dan Palestine. Mungkin kondisi yang kukeluhkan saat ini adalah yang mereka harapkan. Yang mereka rindukan 😥

Dulu saat seusia SD, ibuku paling sibuk menyiapkan perlengkapan lebaran untukku. Dari mulai baju baru, sendal baru, mukena baru, sampai dompet baru untuk menyimpan uang thr dari keluarga. Padahal ibu sendiri belum punya apa-apa untuk dikenakan saat lebaran.

Suatu hari, wajah ibu agak cemas, saat ia belum bisa membelikan dompet baru, ketika semua sepupuku sudah lengkap memiliki segalanya jauh-jauh hari sebelum lebaran. Aku sedih melihat ibu kebingungan, tapi aku juga sedih belum memiliki dompet baru seperti anak-anak lainnya. Ketika malam takbiran tiba, akhirnya ibu mengajakku dan adikku ke pasar tradisional yang riuh dan sesak untuk mencari dompet yang harganya sesuai dengan uang ibu untuk dua dompet. Ibu menggenggam erat tangan kecil kami di kanan dan kirinya. Hingga akhirnya kami menemukan dompet mungil bentuk pikachu dengan harga murah. Kulihat mata ibu berbinar, pasti Tuhan yang membimbing langkahnya menuju si pedagang kaki lima itu. Aku dan adikku saling pandang, hati kami bersorak bersamaan. Ibu tersenyum sambil memandang kami dengan mata berkaca. Ah, mengapa aku memaksamu membelikan dompet baru kala itu. Padahal hanya sebuah dompet kecil. Maafkan aku Ibu…

Anak-anak di Gaza mencari tempat yang aman dibalik peperangan Sumber : https://www.facebook.com/photo.php?fbid=272508649977915&set=pcb.272508789977901&type=3&theater

Anak-anak di Gaza mencari tempat yang aman dibalik peperangan Sumber : https://www.facebook.com/photo.php?fbid=272508649977915&set=pcb.272508789977901&type=3&theater

Kini aku telah menjadi seorang ibu, aku merasakan persis apa yang ibu rasakan. Dan aku mengerti apa yang anak-anak harapkan. Anak adalah separuh nafas ibunya. Ibu akan selalu mengutamakan anaknya jauh sebelum ia memikirkan tentang dirinya sendiri. Bahagia anak adalah surga bagi para Ibu. Terimakasih Ibu… semoga Allah melipatgandakan pahala atas segala pengorbananmu untuk membesarkanku. Itulah kisahku, kisahku itu mungkin cukup membuat haru, tapi tak sepilu kisah saudaraku nun di Gaza sana. Semoga Allah menjaga mereka, melindungi mereka, menyelamatkan mereka. Semoga Allah menguatkan hati para orangtua yang memiliki anak-anak dalam peperangan. Dan semoga jalur Gaza segera merdeka, aman dan damai. Aamiin yra.

 

Berikut link video keadaan iedul fitri di Gaza 😥 antara lain :

https://www.facebook.com/plugins/video.php?href=https%3A%2F%2Fwww.facebook.com%2F100016563469363%2Fvideos%2F272508743311239%2F&show_text=0&width=476

 

Hari ke 18 bulan Ramadhan,
13 Juni 2018,
Khairunnisa Mawar Biduri.




“Jika dulu cita-citaku ingin menjadi arsitek, jurnalis, seniman, pebisnis dan banyak lagi. Sekarang cita-citaku hanya satu : menjadi ibu terbaik untuk anak-anakku”. (Khairunnisa Mawar Biduri)

Menulis dan bercerita

Khairunnisa Mawar Biduri hanya ingin menyambungkan beberapa huruf menjadi kata, yang kemudian mengubahnya menjadi berderet bait-bait dan paragraf-paragraf sederhana yang mungkin tidak ada istimewanya. Semoga bisa memberikan manfaat dan keberkahan :) aamiin

bandar.sarung@yahoo.com

Bergabunglah dengan 7 pengikut lainnya

..Banyak Detik..

Agustus 2018
S S R K J S M
« Jul    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

..Arsip..

..Halaman..

..Kategori..

..Blog Stats..

  • 2.050 hits
Follow Ini Cerita Mawar🌷 on WordPress.com

..Top Posts & Halaman..

Iklan

Semesta Sederhana

cerita sederhana tentang keseharian dan buku-buku

Jejak Kreatifitas

Man saara 'ala darbi washala

Ini Cerita Mawar🌷

"Jika dulu cita-citaku ingin menjadi arsitek, jurnalis, seniman, dan banyak lagi. Sekarang cita-citaku hanya satu : menjadi ibu terbaik untuk anak-anakku".

The Chakiman Journal .__.

"Jika dulu cita-citaku ingin menjadi arsitek, jurnalis, seniman, dan banyak lagi. Sekarang cita-citaku hanya satu : menjadi ibu terbaik untuk anak-anakku".

STROBERI RAME RASANYA

"Jika dulu cita-citaku ingin menjadi arsitek, jurnalis, seniman, dan banyak lagi. Sekarang cita-citaku hanya satu : menjadi ibu terbaik untuk anak-anakku".

:::godirangga:::

"Jika dulu cita-citaku ingin menjadi arsitek, jurnalis, seniman, dan banyak lagi. Sekarang cita-citaku hanya satu : menjadi ibu terbaik untuk anak-anakku".

Bajingan Yang Bergerak Bersama Waktu

"Jika dulu cita-citaku ingin menjadi arsitek, jurnalis, seniman, dan banyak lagi. Sekarang cita-citaku hanya satu : menjadi ibu terbaik untuk anak-anakku".

Herton Maridi

when you want more than you have, you think you need and when you think more than you want, you trought begin to bleed

Agus Noor_files

Dunia Para Penyihir Bahasa

Kepada Puisi

"Jika dulu cita-citaku ingin menjadi arsitek, jurnalis, seniman, dan banyak lagi. Sekarang cita-citaku hanya satu : menjadi ibu terbaik untuk anak-anakku".

BlogOga

"Jika dulu cita-citaku ingin menjadi arsitek, jurnalis, seniman, dan banyak lagi. Sekarang cita-citaku hanya satu : menjadi ibu terbaik untuk anak-anakku".

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia dan Lainnya

introzpector

hal sederhana yang luar biasa

Aroma Pagi

"Jika dulu cita-citaku ingin menjadi arsitek, jurnalis, seniman, dan banyak lagi. Sekarang cita-citaku hanya satu : menjadi ibu terbaik untuk anak-anakku".

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

WordPress.com

WordPress.com is the best place for your personal blog or business site.